Perilaku Manusia

•June 10, 2016 • Leave a Comment

Fakta-unik-tentang-perilaku-manusia-yang-beragam

Pada tulisan kali ini, penulis hanya akan menjelaskan sekilas tentang perilaku manusia. Sebenarnya apa yang mendasari seseorang untuk berperilaku?? Mungkin banyak yang bingung kenapa si A sangat menjengkelkan di suatu waktu tetapi sangat menyenangkan di waktu yang lain. Apakah faktor mood ataukah faktor yang lain. Sebelum penulis membahas lebih jauh, alangkah baiknya untuk mengetahui definisi tentang perilaku.

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003 : 114). Sedangkan menurut KBBI, perilaku didefinisikan sebagai tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Jadi, perilaku sendiri adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri dalam merespon rangsangan baik dari dalam maupun dari luar.

Lalu, setelah mengetahui definisi perilaku, muncul pertanyaan lain, apa penyebabnya?? Secara singkat, penulis akan menjelaskan 3 aspek penting sebagai penyebab seseorang berperilaku, yaitu pengalaman masa lalu, diri sendiri dan lingkungan. Teorinya seperti apa?? Cari sendiri yaa… (ha..ha..ha).

Dari penjelasan singkat diatas mulai kelihatan kan kenapa kok dia begini atau dia begitu?

Setelah penulis belajar dari kampus atau dari keseharian, penulis menyimpulkan kenapa seseorang berperilaku. Alasannya karena adanya reward dan punishment. Jangan tanya itu teorinya siapa, karena penulis lupa siapa penemu teori tersebut. (kalau tidak salah, Teorinya Skinner ha..ha..ha..). Kok bisa? Begini penjelasannya, setiap manusia pasti ingin hal-hal yang positif kan? ex. santai, banyak duit, liburan, have fun, religius, dll. Tidak ada seorang pun yang mau memperoleh hal negatif. “Loh?!! Saya mau kok menderita asalkan si dia bahagia.” Benarkah?? Penulis simpulkan dengan melakukan perbuatan itu, yang menderita menderita tadi itu memperoleh kepuasan batin, hal ini yang penulis maksudkan sebagai hal positif, sehingga yang menderita tadi itu berbuat seperti itu.

Gampangnya seperti ini:

Reward > Punishment -> take it

Reward < Punishment -> leave it

Simple as that.

Sewaktu berhadapan dengan suatu pilihan yang memaksa seseorang memilih, secara tidak sadar otak akan memproses setiap informasi yang diperoleh dengan kecepatan super cepat, lebih cepat dari jet tempur. Lalu, apa yang diproses di otak? Informasi yang didapat tadi diproses dengan membandingkan dengan pengalaman yang pernah didapat, lingkungan dan diri sendiri. Paham??

Hmm.. Apalagi ya yang perlu ditulis?? Mungkin sekian dulu, semoga tulisan ini bermanfaat untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di sekitar dan menjadi masukan bagi mereka di bidang apapun, karena semua bidang tidak terlepas dari perilaku manusia, baik bisnis, pemasaran, kehidupan, dsb.

Tulisan ini mungkin kelihatan sedikit melenceng dengan tema blog ini, tetapi masih berhubungan, juga sebagai mood booster buat penulis untuk menghidupkan blog ini lagi..

Thx.

Advertisements

Indonesia Raya 3 bait

•August 18, 2013 • Leave a Comment

Tahukah pembaca sekalian bahwa lagu Indonesia Raya yang biasa dinyanyikan ketika upacara bendera ternyata hanya 1 bait…???

Penulis yakin kebanyakan dari pembaca semua tidak sadar bahwa lagu kebangsaan kita ternyata ada 3 bait dan entah mengapa dan sejak kapan kedua bait sisanya tidak dinyanyikan. Padahal lagu tersebut mencerminkan harapan dari pahlawan yang terdahulu untuk Negeri ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada 3 simbol yang melambangkan jati diri Negara ini, yaitu Garuda Pancasila-Bhinneka Tunggal Ika, bendera merah putih dan lagu “Indonesia Raya”. Tetapi pada kenyataannya Negara ini masih tidak bisa mewujudkan harapan dari para pendahulu, seakan ketiga simbol tersebut diinjak-injak oleh kepentingan pribadi. Bayangkan saja, untuk beribadah di kampung halamannya sendiri saja merasa kesulitan.

Ketika jaman semakin maju dan teknologi semakin canggih, setiap hari peringatan kemerdekaan, bukan lagu kebangsaan yang dinyanyikan, melainkan lagu pop yang populer dinyanyikan oleh grup band tertentu dan seakan lagu itu sudah mendarah daging untuk dinyanyikan ketika hari proklamasi tiba. Memang liriknya bagus, tetapi apa yang menjadi harapan dari para pendahulu seakan hilang begitu saja ditelan jaman.

Sebagai catatan, làgu “Indonesia Raya” diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman dan diperdengarkan pertama kali pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 dengan menggunakan biola. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” “yang asli” dirilis Koran Sin Po edisi November 1928 dan diaransemen ulang oleh Jos Cleber yang notabene berkebangsaan Belanda pada tahun 1950 atas pertimbangan Presiden Soekarno, dan dinyanyikan hingga sekarang.

Berikut ini tiga bait lagu “Indonesia Raya” versi 1950 yang kemudian menjadi acuan PP nomer 44 tahun 1958 :

Bait I
Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah ne’griku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

Bait II
Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s’lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
P’saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

Bait III
Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N’jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

S’lamatlah rakyatnya,
S’lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg’rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Reff :
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, Neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Melalui lagu ini, pendiri bangsa mempunyai harapan terhadap bangsa ini untuk bersatu dan menghargai perbedaan, suku, agama,ras, adat istiadat. Apabila lirik lagu ini sudah menjadi satu dengan jiwa dan raga, niscaya bangsa ini tidak akan terpecah dan tega untuk menelantarkan bangsanya sendiri seperti Timor Leste yang lepas dan memisahkan diri. Melalui lagu ini pula, marilah kita bersama membangun Indonesia yang kaya akan keaneka ragaman dan memanfaatkan sebaik-baiknya sehingga Indonesia mampu mandiri tanpa harus mengandalkan Negara tetangga untuk memenuhi sandang pangan. Karena melalui lagu inilah, dimana 68 tahun yang lalu mengobarkan semangat para pejuang dan menggetarkan Belanda dan Jepang untuk pergi dari Negara yang kita cintai.

Majulah Indonesia!!!
Dirgahayu Republik Indonesia ke-68
MERDEKA…!!!

(Disadur dari berbagai sumber)

Fokus pada hal detail

•February 8, 2013 • Leave a Comment

Karena sebatang paku tidak terpasang dengan baik, lepaslah tapal kuda.

Karena tapal kuda terlepas, kuda tidak bisa berlari.

Karena kuda tidak bisa berlari, pengirim pesan terlambat mengirim pesan.

Karena pengirim pesan terlambat mengirim pesan, perang kalah.

Karena kalah dalam peperangan, jatuhlah sebuah negara.

Kutipan diatas merupakan salah satu kutipan yang terkenal di Jepang, dimana hanya karena sebatang paku, membuat sebuah negara jatuh. Ironis memang, jika dilihat hanya karena sebatang paku dapat menyebabkan negara jatuh, hanya karena masalah sepele.

Begitu juga dengan apa yang terjadi di kehidupan sekarang, dimana banyak sekali orang yang tidak memperhatikan hal kecil tetapi dapat memberikan efek yang sangat besar. Sebagai contoh dalam lingkungan kerja, seringkali banyak permasalahan datang yang dapat menyebabkan seseorang stress, sehingga membuat perilaku seseorang tersebut menjadi terbawa emosi. Hanya karena kesalahan kecil dari koleganya, mungkin hanya memakai peralatan kantor miliknya tanpa ijin, sehingga menyebabkan kemarahan yang besar dan kemarahan itu dilampiaskan (mungkin) di hadapan orang banyak dan menyebabkan harga diri orang tersebut sebagai seorang manusia terinjak-injak. Sebenarnya kemarahan itu adalah reaksi spontan karena stress dan ada pemicu (meminjam alat miliknya tanpa ijin) yang menyebabkan demikian.

Tak perlu dipungkiri, bahkan pembaca sekalian juga pasti pernah mengalami hal yang sama (penulis pernah). Tetapi, pernahkah pembaca sekalian berpikir bahwa perbuatan yang kelihatan sepele itu dapat membawa dampak yang sangat besar untuk kedepannya?? Tidak percaya?? Sekarang, dengan menggunakan contoh tadi, karena Anda marah karena hal sepele, membuat penilaian kolega Anda terhadap Anda berubah (pemarah, egois, dll). Karena penilaian berubah, maka perilakunya terhadap Anda berubah (lebih berhati-hati, lebih sopan, dll). Karena perilaku berubah, membuat sikapnya terhadap Anda juga berubah (menjaga jarak, berbicara seperlunya, dll). Karena sikapnya berubah, maka hasil (friendship, trust, dll) yang Anda dapatkan juga berubah.

Sudah banyak terbukti di dalam dunia bisnis, bahwa mereka yang memperhatikan setiap detil dalam setiap rancangannya, menjadi sukses dan berhasil di bidangnya. Sebut saja Apple, para pendiri Apple ketika menciptakan suatu produk, mereka hanya memikirkan produk untuk mereka sendiri. Artinya produk yang diciptakan harus dapat menjawab semua kebutuhan mereka dan apabila tidak sesuai dengan kebutuhannya. Dengan berlandaskan konsep pemikiran yang simple (lagi-lagi simple) dari pendiri Apple, Steve Jobs, membuat para engineer memikirkan suatu produk yang universal tetapi tetap eksklusif dan mudah digunakan. Memang tidak banyak pilihan dari produk Apple yang dikeluarkan tiap tahunnya, tetapi lagi-lagi karena produk yang dikeluarkan itu bisa untuk semuanya (one for all), membuat produk Apple tetap digemari dan meraih penjualan yang tinggi di dalam persaingan smartphone.

Sebenarnya masih banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu mengenai fokus pada hal yang sederhana. Tetapi, bukankah dari pemaparan diatas dapat menjawab bahwa sesuatu yang tampak sederhana, dapat memberikan efek yang sangat luar biasa untuk kedepannya. Mengutip dari nasehat sahabat penulis, beliau mengatakan, “Jangan menjadi orang yang reaktif.” Sangat singkat untuk sebuah nasehat, tetapi memang benar ketika berhadapan dengan apapun, jangan menjadi reaktif, melainkan mendengarkan terlebih dahulu-berpikir-berperilaku (Stop-Think-Do).

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi pembaca untuk tidak mengabaikan hal-hal kecil mulai dari sekarang. Seperti layaknya hukum Pareto 80-20, 80% hasil didapatkan dari 20% usaha secara maksimal. Lalu 20% hasil jangan juga diabaikan, untuk mendapatkan 20% itu membutuhkan 80% usaha yang lebih lagi. Dan karena 20% hasil tersebut, membuat hasil yang 100%.

My job satisfaction

•July 19, 2011 • Leave a Comment

Setelah sekian lama vakum dari dunia maya, akhirnya saya memiliki waktu untuk menulis sesuatu untuk dibagikan kepada pembaca sekalian. Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya di tempat kerja saya sekarang (sebelum saya pindah tgl 1 Agustus 2011). Pengalaman yang ingin saya bagi disini mengenai kepuasan kerja di tempat ini.

Kepuasan kerja (job satisfaction), merupakan salah satu elemen penting dari pekerjaan agar pekerja yang berada di sana menjadi betah dan mampu berkontribusi secara penuh, dimana hal ini nantinya akan memberi dampak bagi kinerja perusahaan itu sendiri. Sesuai arti katanya, kepuasan kerja berarti kepuasan seseorang secara emosional yang mengacu pada kepuasan dari penilaian kerja, kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri dan sikap terhadap pekerjaan itu sendiri. Weiss (2002) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu sikap yang berasal dari evaluasi kognitf terhadap emosi, keyakinan dan perilaku di pekerjaan itu.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, antara lain budaya kerja dan model manajemen, keterlibatan karyawan dalam pekerjaan, hak dan kebebasan dalam bekerja. Faktor untuk meningkatkan kepuasan kerja yaitu, kepemimpinan yang baik, relasi atasan dan bawahan yang baik, penghargaan, peningkatan karir, pengembangan diri, feedback and support, arahan yang jelas. Sebaliknya, faktor yang menyebabkan ketidakpuasan yaitu, gaji yang minim, kurangnya kompensasi, lingkungan kerja yang tidak sehat, minim promosi, tidak ada pembagian bonus yang jelas, keamanan kerja yang kurang (dalam hal ini bisa termasuk safety maupun jaminan kehidupan yang layak). Faktor-faktor inilah yang mempengaruhi kepuasan kerja.

Pembahasan saya sebelumnya itu hanyalah sekilas mengenai definisi dan faktor-faktor dari kepuasan kerja, yang ingin saya bagi kepada umum adalah pengalaman saya selama bekerja 1 tahun lebih di tempat ini. Selama saya bekerja, seringkali saya mendapatkan perintah yang kurang jelas, seperti misalnya, tolong pergi ke daerah x untuk melihat perkembangan kompetitor atau kondisi pasar di daerah sana. Lalu, saya bertanya mengenai tindak lanjut dari dinas saya ini tetapi sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari atasan. Saya sangsi mengenai hasil dinas saya akan masuk tong sampah.

Kemudian mengenai jam kerja, menurut UU ketenagakerjaan, karyawan dalam seminggu hanya boleh bekerja sebanyak 40 jam dan 7 jam dalam sehari. Apabila lebih dari yang ditetapkan, akan dihitung lembur. Tetapi apa yang terjadi di tempat saya bekerja? Full day dari hari Senin sampai Sabtu tanpa dibayar lembur. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya yang mengetahui hal ini?

Di tempat saya bekerja ini, tidak ada yang namanya peningkatan karir dan tidak ada jaminan keamanan apabila dinas keluar dengan membawa nama perusahaan. Apakah saya harus marah? Atau harus diam seolah tidak terjadi apa-apa? Ketika saya bertanya pada pihak manajemen, mereka hanya menjawab bahwa yang saya tanyakan sedang dirapatkan agar baik untuk kedua belah pihak, tetapi 6 bulan berlalu tanpa adanya tindakan apa-apa.

Sebuah perusahaan manufaktur, apabila mengalami turnover lebih dari 5%, berarti perusahaan tersebut tidak sehat dan tidak bisa menjaga agar karyawan betah untuk bekerja disana, dan hal ini terjadi di perusahaan ini. Setiap tahun, rata-rata karyawan yang keluar di divisi pemasaran sendiri minimal 10 orang dari total 100 org. Berarti minimal 10% dari jumlah karyawan di divisi pemasaran.

Menurut Sun Tzu, dalam bukunya Art of War, dikatakan bahwa untuk memenangkan peperangan tidak cukup hanya mengetahui kekuatan lawan. Jika hanya mengetahui kekuatan lawan tanpa mengetahui kekuatan sendiri, kemungkinan menang hanya 50%. Jika mengetahui kekuatan sendiri tanpa mengetahui kekuatan lawan, kemungkinan menang juga hanya 50%. Jika tidak mengetahui keduanya, jangan harap bisa memenangkan peperangan. Jika mengetahui keduanya, percayalah, kemenangan berada di tangan walaupun ribuan perang yang anda jalani.

Inilah singkat cerita mengenai pengalaman saya di tempat ini. Semoga dapat memberikan inspirasi. God Bless Us.

Lucunya Negeri Indonesia

•January 21, 2011 • Leave a Comment

Ketika saya mendapat link video ‘Andai aku Gayus Tambunan’, saya unduh link tersebut dan mendengarkan video lagu tersebut. Liriknya menarik dan fenomena yang ditunjukkan di video tersebut yang membuat saya tertawa sekaligus sedih dalam hati. Kenapa..??? Karena saya melihat betapa lucu dan miskinnya negeri ini. Negeri yang kita tempati ini, yang merupakan negara dengan suku dan perbedaan kulit terbanyak (menurut saya sih), terinjak-injak dan rusak karena moral bangsa yang begitu bobrok-nya sehingga hukum di negara hanya milik mereka yang memiliki uang.

Cerita yang sama juga terjadi ketika saya melihat film garapan anak bangsa yang berjudul ‘Lucunya Negeri Ini’ (kalau tidak salah ingat :p). Pada film itu dikisahkan seorang financial consultant yang berkeliling menawarkan satu konsep keuangan agar ke depannya, mereka tidak perlu lagi bekerja keras untuk memperoleh uang. Tetapi, kemanapun pemuda ini berkeliling menawarkan konsepnya selalu ditolak, dan akhirnya yang menerima konsepnya adalah satu kelompok maling atau pencuri. Kelompok tersebut dikepalai oleh seorang bos yang hanya lulusan SD, sedangkan anak buahnya tidak pernah mengecap bangku sekolah. Intinya dari film tersebut, orang yang mencari uang secara halal dipersulit.

Sebenarnya dari 2 hal di atas menceritakan keburukan negeri ini yang bisa dikatakan memasuki tahap akut. Saya tidak terlalu paham, mengapa hal itu bisa terjadi. Hukum hanya milik mereka yang memiliki uang, sampai-sampai ada gurauan tentang kepanjangan KUHP (Kasih(beri) Uang Habis Perkara).

Jika ditelaah lebih lanjut, ternyata memang benar bahwa hukum di Indonesia ini milik mereka yang memiliki uang. Sebagai contoh, pencuri ayam yang tertangkap, dipidana kurungan 7 tahun. Sedangkan para koruptor pemerintahan, kasusnya banyak yang dipeti eskan. Kenapa…??? Karena sogokkannya tidak ada, makanya dipenjara selama 7 tahun. Apa yang membuat negara ini masuk 10 besar negara dengan tingkat korupsi paling tinggi..??? Karena moral di Indonesia sudah sangat parah sehingga merugikan orang lain merupakan hal yang sangat biasa. Justru orang yang mencari nafkah dengan berjualan di pinggir jalan, digusur dengan kasar tanpa ada solusi, tetapi akar masalahnya malahan dibiarkan duduk dengan tenangnya di kursi pemerintahan tanpa ada suatu evaluasi yang jelas apakah mereka bersih atau tidak.

Mungkin pada jaman sekarang, korupsi sudah mulai berkurang karena hukum yang agak ketat. Tetapi yang banyak terjadi adalah ‘laten korupsi'(mungkin seperti ini tulisannya). Maksudnya seperti apa…??? Apakah pembaca pernah menganggap bahwa 17.05 sama dengan 17.07..??? Kalau iya, berarti pembaca sudah/pernah melakukan laten korupsi. Hati-hati…!!!

Kenapa saya katakan hati-hati..??? Karena bahaya laten korupsi ini efeknya bukan jangka pendek, melainkan jangka panjang yang ketika efeknya terasa, tidak akan sempat berpikir bahwa itu penyebabnya adalah laten korupsi. Mungkin sedikit membingungkan apa yang saya maksudkan ini, untuk memperjelasnya, akan saya beri contoh dengan perhitungan matematis.

Jika si A bekerja pada satu instansi dengan penghasilan 2,5 juta rupiah, dengan asumsi ada 25 hari kerja. Berarti si A memperoleh penghasilan 100 ribu per hari selama 8 jam. Idealnya orang bekerja adalah setiap menitnya bahkan setiap detik haruslah menghasilkan sesuatu yang worthed bagi instansi itu. Jika setiap harinya si A mengurangi waktu kerjanya 10 menit (bukan angka yang besar toh?), berarti selama 48 hari, si A telah membuang waktu kerja sebanyak 1 hari, dalam setahun berarti telah membuang waktu sebanyak 6 hari kerja alias 1 minggu. Memang tidak kelihatan besar, tetapi itu artinya instansi tersebut dipaksa untuk bekerja lebih keras karena kehilangan 1 minggu kerja tadi. Jika dibiarkan, akan mengalami kerugian yang berdampak pada omzet. Omzet berdampak pada penghasilan, ujung-ujungnya si A kalau tidak menyadarinya akan menyalahkan instansi tempat dia bekerja.

Kasus yang lain yaitu yang terjadi baru-baru ini. Pemerintah berencana menutup RIM karena konten porno yang dapat diakses secara bebas dan dipaksa untuk membangun server di Indonesia, dengan alasan untuk mengantisipasi tindak korupsi dan teroris, juga agar pelecehan seksual di negara ini berkurang. Apakah mungkin hal itu terwujud…??? Padahal di negara Skandinavia dan Eropa, walaupun konten porno dapat diakses secara bebas, tetapi tingkat kriminalitas tentang pelecehan seksual paling rendah di dunia. Sebenarnya apa yang diinginkan pemerintah dengan memaksa RIM seperti itu..??? Menurut saya, apabila dibangun server di Indonesia, maka pajak akan dibayar oleh RIM sebagai pemasukan negara dan tenaga kerja dari Indonesia digunakan sehingga menekan jumlah pengangguran.

Yang lucu dari kasus RIM ini adalah menggunakan alasan undang-undang negara agar mematuhinya selaku perusahaan asing. Tetapi apakah mereka yang duduk di kursi pemerintahan tidak menghiraukan dasar negara kita yaitu Pancasila, terutama sila 1 yang berbunyi, ‘KeTuhanan Yang Maha Esa’..?? Sehingga hukum yang dibuat akhir-akhir ini berdasar pada sebagian agama mayoritas…??!! Sangat lucu bukan…???

Lalu solusinya bagaimana…??? Menurut saya, bukan dengan memberikan punishment bagi pelanggar dan menganggap masalah akan selesai begitu saja, melainkan dengan memperbaiki akar permasalahan yang ada yaitu moral(menurut saya). Bagaimana cara memperbaiki moral bangsa kita..??? Salah satunya dengan memperbaiki kualitas pendidikan yang ada dan mempermudah mereka yang tidak mampu mendulang biaya pendidikan. Ketika saya menulis blog ini, saya membaca satu berita yang sangat lucu lagi. Dalam berita itu disebutkan bahwa pasangan suami istri yang membikin kampus gratis ternyata dijebloskan ke penjara. Bukankah sangat lucu ketika ada yang mempermudah biaya pendidikan di negara ini malah dijebloskan ke penjara..???
Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca sendiri artikel ini…
http://m.kompas.com/news/read/data/2011.01.18.14264936

Nah.. Bagaimana tanggapan pembaca…???

Posted with WordPress for BlackBerry.

Some people tell lies. Others live them.

•January 19, 2011 • 4 Comments

Some people tell lies. Others live them. Sebenarnya ketika saya membaca tweet ini, saya sedikit bingung (sampai saya menulis ini kayaknya). Penyebabnya bukan siapa yang men-tweet, tetapi lebih kepada artinya. Kalau menurut pengertian saya, artinya adalah beberapa orang mengatakan kebohongan, yang lainnya percaya dan menjalani kebohongan itu seperti layaknya suatu kebenaran.

Kalau dipikir lebih lanjut, apakah mungkin seseorang melakukan itu serta merta layaknya tidak terjadi apa-apa..?? Kok agaknya susah ya…??? Atau saya yang salah mengartikan…??? Itu yang saya pikirkan sekarang. Seandainya memang benar demikian, kenapa orang tersebut tidak mau berpikir lebih dalam dari sebuah pernyataan yang belum ketahuan apakah itu sebuah kebohongan atau kebenaran. Apa yang salah…??? Tingkat pendidikan yang dimiliki orang itu ataukah budaya instant-isme yang dimiliki masyarakat sekarang sehingga hanya menerima mentah-mentah suatu informasi tanpa diolah lebih lanjut…???

Sebagai contoh, jika si A berkata kepada si B kalau dirinya mendapatkan musibah yang membuat dirinya tidak fokus dalam bekerja, apakah mungkin si B percaya begitu saja kepada si A..??? Seandainya demikian pun, berarti si B tidak mampu berpikir secara logika dan tidak mencari kebenaran dari pernyataan si A. Seeing is believing, itu yang saya pelajari di perkuliahan saya.

Ataukah arti dari pernyataan judul di atas itu seperti ini, beberapa orang mengatakan kebohongan dan yang lainnya hidup dalam kebohongan…??? Kalau seperti pernyataan yang kedua yang dimaksud, berarti selama ini semua orang hidup dalam kebohongan yang dibuat sendiri dan hidup dengan mengenakan topeng yang dimaksudkan untuk menyembunyikan jati dirinya karena takut orang lain mengetahui privasinya dan memang sudah selayaknya semua orang memiliki sisi kehidupan yang tidak semua orang lain boleh mengetahuinya.

Sebenarnya kemampuan bahasa inggris saya pas-pasan dan sedang dalam tahap memperdalam, tetapi dengan sebuah pernyataan saja dapat membuat saya bingung setengah mati sehingga memutuskan untuk menulis blog ini. Saya kagum dengan bahasa inggris karena arti dari satu pernyataan saja dapat berarti banyak, tergantung dari yang mengartikan. Ataukah saya yang salah dalam mengartikan…??? Pertanyaan saya, pernyataan mana yang benar dari dua pernyataan di atas…??? Ataukah ada pernyataan lain yang lebih benar…??? Mohon bantuan dari pembaca sekalian…
({})–̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Ţћǟπƙ γǿΰ•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶̶:*

Analogi sederhana

•January 8, 2011 • Leave a Comment

Ada 10 karung berisi koin emas. Tiap karung berisi masing-masing 20 koin. Dari 10 karung itu, ada 1 karung yang berisi perak. Berat tiap koin emas tersebut @ 1 gram, sedangkan perak @ 0,9 gram. Jika Anda diminta untuk menemukan mana dari 10 karung tersebut yang berisi perak, sementara Anda tidak mengetahuinya…??? Berapa kali Anda akan menimbangnya untuk menemukan karung yang berisi perak…??? Sedangkan timbangan yang ada hanya mampu untuk sekali menimbang adalah seberat 75 gram.

Sebuah pertanyaan yang kelihatannya mudah, tetapi cukup membingungkan. Ketika saya pertama kali diberi pertanyaan itu, awalnya saya sedikit kebingungan lalu saya langsung berpikir dan menjawab 1 kali. Sistematikanya sederhana untuk menemukan mana karung yang berisi perak dan hanya dibutuhkan 1 kali penimbangan.

Dalam hal ini, saya menggunakan 1 analogi sederhana, bahwa untuk menemukan karung berisi perak, tidak perlu menimbang satu per satu, melainkan langsung ditimbang sekaligus. Tetapi disini ada 1 kendala, timbangan yang ada hanya mampu untuk sekali penimbangan adalah 75 gram. Jika dari 10 karung itu langsung ditimbang sekaligus, maka akan didapat hasil 198 gram dan itu tidak mungkin dilakukan karena melebihi berat timbangan.

Lalu saya berpikir, jika dari 1 populasi kemudian diambil sampel untuk mewakili populasi tersebut, apakah hasil yang didapat juga sama…??? Ketika saya coba, ternyata hasilnya mewakili dan saya langsung tahu mana karung yang berisi perak. Lalu, bagaimana cara untuk menentukan sampel dari populasi (koin emas/perak) itu..??? Ini cara yang saya lakukan.

Mula-mula, tulis dari tiap karung tersebut angka 1-10 sesuai jumlah karung. Lalu, setelah tiap-tiap karung diberi nomor, ambil koin sesuai angka yang ada di karung tersebut, ambil 1 jika di karung tersebut tertulis angka 1, dst. Kemudian, dari koin yang terambil tadi, jadikan satu pada satu wadah (total ada 55 koin) dan gunakan itu untuk menimbang, maka hasil dari timbangan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui karung mana yang berisi perak. Misalnya, jumlah timbangan tersebut menunjukkan angka 54,8 gram, berarti karung yang nomor 2 yang berisi perak.

Maksud dari cerita di atas adalah ketika kita dihadapkan pada satu persoalan, seringkali kita berpikir hanya sebatas persoalan itu dan tidak berani mencoba untuk mencari jawaban di luar persoalan itu. Banyak dari kita lantas berkata bahwa hal itu tidak mungkin, padahal jika kita sedikit memutar otak kita, jawaban itu pasti akan muncul.

Sama halnya ketika saya melakukan penelitian untuk skripsi. Untuk meneliti suatu permasalahan dari 1 populasi yang sangat besar, tidak mungkin dapat menjangkau keseluruhan, kecuali jika memilih sampel sesuai kriteria yang dibutuhkan.

Di bidang usaha apapun juga seperti itu, saya pernah mengetahui dari cerita teman saya bahwa untuk membuat rasa keju yang sekarang beredar di pasaran juga membutuhkan suatu penelitian yang melibatkan sampel dari populasi masyarakat Indonesia. Ketika itu ada 100 orang yang diuji cobakan rasa dari keju yang akan dipasarkan. Apabila kebanyakan dari sampel itu tidak menyukai rasa keju itu, maka produk itu tidak dibuat dan taste nya diperbaiki, begitu juga sebaliknya. Jadi, tidak serta merta produk yang sekarang banyak beredar di pasaran itu karena keinginan produsen, melainkan juga karena riset yang dilakukan oleh produsen tersebut sehingga menjadi barang/jasa yang siap pakai.

Ironisnya, banyak dari perusahaan yang sekarang berkembang dan mungkin ada yang di level aman, tidak melakukan riset ini dan lupa untuk back to basic. Mereka kebanyakan memproduksi barang atau jasa sesuai dengan standar produsen dan bukan standar konsumen, sehingga banyak dari perusahaan besar ketika penjualan menurun yang dipersalahkan adalah bagian pemasaran. Jika hal ini terjadi, apakah akan terjadi penurunan penjualan..?? Saya yakin iya, walaupun penurunan itu tidak drastis tetapi berangsur-angsur turun.

Ketika menulis ini, saya teringat satu blog dari James Waskito Sasongko yang sedikit menjelaskan mengenai The Four Rooms of Change. Disana jelas bahwa organisasi pasti melewati empat tahap ini, dan idealnya harus selalu berputar untuk menjadi inovatif. Untuk lebih jelasnya, silakan klik link ini http://jameswsasongko.wordpress.com/2010/12/14/inovasi-manajemen-kebebalan-disasosiasi-dan-perubahan/

Jika suatu organisasi sudah merasa puas dan tidak segera melakukan inovasi yang notabene adalah suatu keharusan bagi sebuah perusahaan, maka dapat dipastikan organisasi tersebut ‘mundur’ secara perlahan karena yang lainnya maju. Maka dari itu, janganlah menjadi orang yang mudah ‘puas’ dengan prestasi yang diraih lalu menyombongkan diri, tetapi jadilah orang yang selalu ‘hijau’ sehingga selalu belajar secara terus menerus dan berpikir simple tetapi dapat berpikir out of the box.

Semoga bermanfaat…:D

Posted with WordPress for BlackBerry.