Analogi sederhana

Ada 10 karung berisi koin emas. Tiap karung berisi masing-masing 20 koin. Dari 10 karung itu, ada 1 karung yang berisi perak. Berat tiap koin emas tersebut @ 1 gram, sedangkan perak @ 0,9 gram. Jika Anda diminta untuk menemukan mana dari 10 karung tersebut yang berisi perak, sementara Anda tidak mengetahuinya…??? Berapa kali Anda akan menimbangnya untuk menemukan karung yang berisi perak…??? Sedangkan timbangan yang ada hanya mampu untuk sekali menimbang adalah seberat 75 gram.

Sebuah pertanyaan yang kelihatannya mudah, tetapi cukup membingungkan. Ketika saya pertama kali diberi pertanyaan itu, awalnya saya sedikit kebingungan lalu saya langsung berpikir dan menjawab 1 kali. Sistematikanya sederhana untuk menemukan mana karung yang berisi perak dan hanya dibutuhkan 1 kali penimbangan.

Dalam hal ini, saya menggunakan 1 analogi sederhana, bahwa untuk menemukan karung berisi perak, tidak perlu menimbang satu per satu, melainkan langsung ditimbang sekaligus. Tetapi disini ada 1 kendala, timbangan yang ada hanya mampu untuk sekali penimbangan adalah 75 gram. Jika dari 10 karung itu langsung ditimbang sekaligus, maka akan didapat hasil 198 gram dan itu tidak mungkin dilakukan karena melebihi berat timbangan.

Lalu saya berpikir, jika dari 1 populasi kemudian diambil sampel untuk mewakili populasi tersebut, apakah hasil yang didapat juga sama…??? Ketika saya coba, ternyata hasilnya mewakili dan saya langsung tahu mana karung yang berisi perak. Lalu, bagaimana cara untuk menentukan sampel dari populasi (koin emas/perak) itu..??? Ini cara yang saya lakukan.

Mula-mula, tulis dari tiap karung tersebut angka 1-10 sesuai jumlah karung. Lalu, setelah tiap-tiap karung diberi nomor, ambil koin sesuai angka yang ada di karung tersebut, ambil 1 jika di karung tersebut tertulis angka 1, dst. Kemudian, dari koin yang terambil tadi, jadikan satu pada satu wadah (total ada 55 koin) dan gunakan itu untuk menimbang, maka hasil dari timbangan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui karung mana yang berisi perak. Misalnya, jumlah timbangan tersebut menunjukkan angka 54,8 gram, berarti karung yang nomor 2 yang berisi perak.

Maksud dari cerita di atas adalah ketika kita dihadapkan pada satu persoalan, seringkali kita berpikir hanya sebatas persoalan itu dan tidak berani mencoba untuk mencari jawaban di luar persoalan itu. Banyak dari kita lantas berkata bahwa hal itu tidak mungkin, padahal jika kita sedikit memutar otak kita, jawaban itu pasti akan muncul.

Sama halnya ketika saya melakukan penelitian untuk skripsi. Untuk meneliti suatu permasalahan dari 1 populasi yang sangat besar, tidak mungkin dapat menjangkau keseluruhan, kecuali jika memilih sampel sesuai kriteria yang dibutuhkan.

Di bidang usaha apapun juga seperti itu, saya pernah mengetahui dari cerita teman saya bahwa untuk membuat rasa keju yang sekarang beredar di pasaran juga membutuhkan suatu penelitian yang melibatkan sampel dari populasi masyarakat Indonesia. Ketika itu ada 100 orang yang diuji cobakan rasa dari keju yang akan dipasarkan. Apabila kebanyakan dari sampel itu tidak menyukai rasa keju itu, maka produk itu tidak dibuat dan taste nya diperbaiki, begitu juga sebaliknya. Jadi, tidak serta merta produk yang sekarang banyak beredar di pasaran itu karena keinginan produsen, melainkan juga karena riset yang dilakukan oleh produsen tersebut sehingga menjadi barang/jasa yang siap pakai.

Ironisnya, banyak dari perusahaan yang sekarang berkembang dan mungkin ada yang di level aman, tidak melakukan riset ini dan lupa untuk back to basic. Mereka kebanyakan memproduksi barang atau jasa sesuai dengan standar produsen dan bukan standar konsumen, sehingga banyak dari perusahaan besar ketika penjualan menurun yang dipersalahkan adalah bagian pemasaran. Jika hal ini terjadi, apakah akan terjadi penurunan penjualan..?? Saya yakin iya, walaupun penurunan itu tidak drastis tetapi berangsur-angsur turun.

Ketika menulis ini, saya teringat satu blog dari James Waskito Sasongko yang sedikit menjelaskan mengenai The Four Rooms of Change. Disana jelas bahwa organisasi pasti melewati empat tahap ini, dan idealnya harus selalu berputar untuk menjadi inovatif. Untuk lebih jelasnya, silakan klik link ini http://jameswsasongko.wordpress.com/2010/12/14/inovasi-manajemen-kebebalan-disasosiasi-dan-perubahan/

Jika suatu organisasi sudah merasa puas dan tidak segera melakukan inovasi yang notabene adalah suatu keharusan bagi sebuah perusahaan, maka dapat dipastikan organisasi tersebut ‘mundur’ secara perlahan karena yang lainnya maju. Maka dari itu, janganlah menjadi orang yang mudah ‘puas’ dengan prestasi yang diraih lalu menyombongkan diri, tetapi jadilah orang yang selalu ‘hijau’ sehingga selalu belajar secara terus menerus dan berpikir simple tetapi dapat berpikir out of the box.

Semoga bermanfaat…:D

Posted with WordPress for BlackBerry.

~ by Darwin Bintoro on January 8, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: